Akeno Camp (1) www.rosirisalah.com
Penggalan Hidup

Akeno Camp dan Rahasia Yang Belum Kusampaikan

WARNING: JUDUL ADALAH CLICKBAIT

Kamu werewolf ya?

Mana saya tahu, saya kan ikan.” (Teh Peggy, 2020)

rosirisalah.com – Berawal dari kegiatan AKENO : sharing session setiap akhir pekan yang sudah mentok (semua sudah kebagian) diberilah opsi lain untuk memilih kegiatan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saat itu salah satu squad mengusulkan di grup chat: Camping aja yuk~ yuks! Nah, seru juga tuh.

Lagipula, setelah WFH selama hampir 6 bulan lebih apa lagi sih cita-cita terdekat manusia selain bisa keluar dari rumah? Aku sebagai tim hore tentu hayu hayu gas sedari awal pun.

Selanjutnya, karena satu dan lainhal, acara camp ini sempat tertunda beberapa pekan. Sampai…. 17 Oktober dipilih sebagai waktunya! Dengan Pa Riski dan Kang Iskan sebagai panitia dan kami (anak-anaknya) sebagai peserta kegiatan.

(Ket. Foto Dokumentasi Akeno Camp, Pa Riski dan anak-anaknya.)

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan pada saat Akeno Camp. Sebenarnya sebagian tim akhwat sudah berkumpul dan gladi resik kemping (?) di rumah Teh Peggy di Cikuda. Rumah Teh Peggy dipilih sebagai titik kumpul dan menjadi tempat kita mempersiapkan bareng-bareng hal-hal yang harus disiapkan. Terimakasih banyak untuk ibu The Peggy yang baik sekali membantu dan menerima kami (hatur nuhun gozaimasu).

2Days 1 Night, Akeno Camp ini aku bagi dalam beberapa sekmen, lomba masak, main games dan sesi api unggun. Juga lokasi sumber air yang tidak begitu dekat haha, membuat acara kemping ini menjadi ajang yang tepat untuk menurunkan kalori karena bolak balik naik bukit.

Masuk Grup C, Ciee…

Beberapa hari sebelum kegiatan, kami dibagi ke dalam tiga kelompok untuk pembagian tugas membawa perlengkapan, baik pribadi maupun kelompok. Aku sih sanstuy sekali waktu itu yang masuk kelompok C, karena kubisa bawa apa saja kecuali wajan.

Akhirnya aku bawa senter dong, yeaaaa~

Dan ternyata ada tambahan lagi saudara-saudara! Dua hari sebelum keberangkatan, panitia memberi tugas kembali untuk menyiapkan bahan-bahan makanan saat kemping. Kelompok C ternyata kebagian untuk menyiapkan rujak. Humor pertama adalah diriku tidak begitu menyukai rujak dan tidak tahu apa saja yang harus disiapkan.

(Dokumentasi Pribadi, Grup C: Rekonsiliasi Geng Sehat dan Geng Junkfood)

Dualisme itu berlangsung sampai pada lomba masak. Aku sebagai team micin terus menyodorkan masako sementara kepala Chef (Kang Agus) saat itu istiqomah hanya menggunakan gula dan garam. Ada Kang Mifriz yang juga sangat higienis, Teh Gina yang kreatif, dan Teh Ani yang kalem-kalem solutif. Aku? Sih tim hore aja yang punya resolusi masak indomie di malam hari…

Kekurangan kami adalah tidak menyiapkan wadah untuk makan rujaknya. Tapi dengan selisih sengit, akhirnya berhasil menjadi juara lomba masak di Akeno Camp tempo hari (Cieee). Begitulah, ceritaku bersama grup C.

(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, Udah kayak model brosur belum?)

/

Kenyang Sepanjang Hari…

Kegiatan masak-masak lainnya memang dimulai di siang hari tepat setelah kami sampai lokasi. Saat tim Ikhwan pasang tenda, tim Akhwat kebagian jobdest menyiapkan makan siang. Siang hari udah barbekyu­-an euy, dan ada juga yang masak tumis dan gule. Ditambah lontong, Pish roll (Fish Roll) nya enak banget sih! Lalu sorenya makan rujak dan menjelang magrib digelar lomba masak.

Bisa bayangin kan seberapa banyak bahan makanan yang ada?

Kami yang mengira akan kekurangan makanan dan sangat antisipatif malah merasa kenyang banget!

Alhamdulillah, Kemping kenyang sepanjang hari inimah!

So sad, karena saking kenyangnya, resolusi masak indomie di malam hari akhirnya terlaksana di pagi harinya. Bersama bala-bala duarebu tiga buatan Professional Chef The Peggy.

(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, Kenyang Sepanjang Hari)

/

Kemping Ceria, Kamu Werewolf ya?

Cerita lainnya, Akeno yang biasa sangat lekat dengan barang-barang elektronik ini berusaha mencoba terlepas dari gadget dan bersatu dengan alam (Ciee).  Karena banyak waktu bebas pula, kami menghabiskan dengan banyak melakukan permainan offline.

Awalnya tim akhwat bermain kartu UNO dengan peraturan tambahan dari Teh Ghina untuk tidak menyebutkan angka, warna, nama asli dan nama panggilan seperti : Teh, Kamu, Saya dan kata ganti sejenis lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana hening dan ngakaknya permainan UNO kami? Dengan bahasa isyarat semuanya semakin bikin perut geli karena ngakak! Hahaha… Semacam roleplay jadi Charlie Caplin gitu!

(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, Bermain Werewolf sambil makan rujak)

Kedua, game yang dimainkan bersama Ikhwan adalah game werewolf! Iya itu! Game suudzon dan fitnahan itu! Awalnya aku tidak begitu mengerti tentang game ini karena saat booming permainan online nya saja aku gak ngerti. Nah loh! Beberapakali menjadi villager yang seperti gubug cau (diem diem bae), lalu menjadi guardian (yang malah nyelamatin werewolf—dodol sekali kan) dan berakhir menjadi werewolf.

“Rosi kamu werewolf ya?”

“Iya aku werewolf.”

Hahaha, beberapakali aku masih bingung dan tidak menemukan titik terang.

Aku pribadi sih merasa paling menyenangkan bermain werewolf adalah saat terbunuh dan ada di alam baka (?) karena kamu bisa memantau siapa yang memfitnah siapa! Gitu sih XD Sayangnya aku tidak begitu kritis sehingga terlalu banyak loadingnya dalam bermain permainan ini.

Overall, seru banget bisa ketawa-ketawa bersama seluruh rekan di Akeno. Dan alhamdulillah, pagi siang sore malam, langit cerah dan tidak hujan. Betapa banyak hal yang mesti kami syukuri <3

(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, edit by Kang Nanda)

Api Unggun dan Berbagi Kisah

Malam telah tiba… (nadanya seperti pembawa acara game werewolf)

Setelah shalat dan makan, kami melingkar di api unggun. Ngakak juga sebenarnya karena petikan gitar tidak pernah berakhir satu lagu full.  Kukira bakal ada lagu wajib seperti Terlalu Manisnya – Slank atau ada Pelangi di matamu (?). Tapi gak lama dari itu, kita memulai acara lain yakni saling mengajukan pertanyaan kepada masing-masing rekan di sebelah kanan.

Banyak sekali pertanyaan yang diajukan kepada masing-masing pribadi. Ada yang menanyakan tentang resolusi dan rencana kedepan, menanyakan ‘apa arti aku untukmu?’ haha, visi misi Akeno, visi misi hidup, harapan untuk Akeno dan pertanyaan-pertanyaan personal lainnya. Di sana tentu kita bisa kembali saling mengenal dan berbagi sudut pandang. Ada juga kisah-kisah inspirasi yang disampaikan.

Lalu tibalah aku ditanya oleh Teh Ani di sebelahku, “Bagaimana Kesan Teh Rosi selama bekerja di Akeno?”

Wah… rasanya sudah tiga kali aku ditanya pertanyaan itu di forum Akeno. Dan mungkin jawabanku akan sangat template dan belum berubah.

Pertama karena aku sangat bersyukur bisa Allah kasih jalan untuk bertemu orang-orang di Akeno. Seperti memang lingkungan yang selama ini aku cari-cari…

Mungkin terdengar sangat politis, namun let me share something yang belum aku sampaikan kemarin…

Sebenarnya dalam hal pekerjaan tentu ada jenuhnya, ada bosan, kesal, kecewa. Aku juga merasakan itu. Bekerja bukan berarti selalu menyenangkan, pasti ada hal-hal yang membuat down juga kan. Tapi pribadi-pribadi yang mengelilingiku itu tidak bisa tidak untuk kubilang: Aku bersyukur sekali bisa bertemu keluarga di Akeno.

Mereka benaran orang baik, atau setidaknya mempunyai visi yang jelas untuk sama-sama berproses menjadi baik.

Duluuu, sekali. Sebelum aku begitu siap tentang segala hal diluar sana. Aku sempat mendengar hadits yang berbunyi: “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya.” Dan seorang teman yang shaleh bisa membawa sahabat yang sering bersama-sama dengannya ke dalam surga. Sahabat yang mencari-cari temannya untuk bersama-sama masuk surga.


Sedih lah aku waktu itu. Apa aku punya sahabat yang seperti itu? Apa aku bisa menjadi sahabat yang seperti itu? Aku sadar dosaku sangat banyak, dan dimana dapat mencari teman yang bisa mengingatkan aku selalu dalam kebaikan? Teman yang tidak hanya orientasi dunia dan tidak menilaimu hanya dari pencapaian dunia, atau make up, atau obsesi semu…

Lalu dengan mudahnya Allah susun skenario untuk pertemukan aku dengan Akeno. Seolah menjawab do’a “Ya Allah, dekatkan aku dengan orang-orang yang shaleh.” Dan sistem yang mendukungnya.

Awalnya tidak begitu mudah. Tapi Allah memampukan semuanya. Aku belajar banyak hal. Merubah penampilan memakai rok (karena semua akhwat sudah berpakaian syari), aku mengulang-ulang doa kifaratul majlis yang baru aku tahu setelah lulus kuliah, aku baru tahu ada doa rabithah, aku tahu nikmatnya shalat berjamaah yang selama ini jarang sekali aku rasakan. Briefing pagi dimulai dengan tilawah Quran, asmaul husna, hadits arbain. Setiap jumat jamaah baca al kahfi. Aku mengingat semuanya dari masih WFO sampai sekarang WFH.

Aku sempat insecure karena saat istirahat di kantor, teman-teman akhwat membawa mushaf al-quran bukan handphone nya. Aku selalu ingat saat betapa sangat dijaga auratnya, tidak sering membuka jilbab dan dengan apik menggunakan kaos kaki yang biasa dianggap sepele. Karena di Akeno batas interaksi antara Ikhwan dan akhwat juga memang tidak satu ruangan, tentu interaksi kami juga dijaga.

Gak tahu kenapa… tapi aku bersyukur dan terharu karena sistem yang baru aku temui. Sistem yang Allah tunjuki untuk belajar banyak hal di sini. Langkah untuk semakin mendekat mempelajari Islam.

Bukan sudah baik, tapi saling menasehati untuk menjadi lebih baik. Bukan untuk dunia, tapi untuk hal yang abadi di kehidupan kedua.

Tidak terasa sudah satu tahun aku belajar banyak hal di Akeno. Banyak yang aku lewati bukan sekadar pengalaman pekerjaan saja.

Harapanku hanya, bila nanti ada dari mereka yang masuk surga karena keshalehan dan amalnya, aku bisa terciprat karena berusaha bergabung dalam sistemnya :’)

Terimakasih sudah mempertemukanku dengan orang-orang hebat di Akeno Ya Allah 😊

Semoga setiap niat dan ikhtiar kita bisa diterima untuk meraih ridha-Mu

Semoga nanti bisa saling memanggil dan bertetangga di tempat terbaik 🙂

(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, Gak semua, tapi ini beberapa gambaran orang-orang baik disekitarku)
(Ket. Dokumentasi Akeno Camp, Akhwat Akeno)

Mungkin segitu aja ceritaku 😊

Rosi Risalah

Please follow and like us:

4 Komentar

  1. Pitaloka

    Warga bangga padamu :’)

  2. Ikan

    Ahhh aku terhuraa

  3. Aku hanyalah Villager dari berkali-kalinya permainan.. Bosan

  4. Never Surender and Be Yourself
    *ada giveaway??

    Kok bisa ada orang nulis sepanjang ini, yang baca aja capek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *