buku air mata di ujung malam rosirisalah.com
Esai, Opini, Penggalan Hidup, Resensi

Buku Air Mata di Ujung Malam dan Lirik Sufistik Lagu Letto, Sebelum Cahaya

Kekuatan hati yang berpegang janji, genggamlah tanganku, cinta. Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri, temani hatimu, cinta

– Letto, Sebelum Cahaya

Ada dua hal yang akan dibahas dalam tulisan ini. Pertama Resensi sebuah buku yang menjadi reminder dan lirik lagu Sebelum Cahaya dari band generasi 90an, Letto. Lahir di tahun berapakah kamu? Kalau kamu tahu dan ‘tengiang’ pada lirik lagu di atas berarti kita satu frekuensi dan satu saluran tv di zaman dahulu (*apasih). Ngomong-ngomong, aku baru tahu ternyata Mas Sabrang/ Noe (Vokalis Letto) itu anak kandungnya Emha Ainun Nadjib a.k.a Cak Nun.

Baiklah, Next….

Pertama, mari kita bahas buku Air Mata di Ujung Malam. Buku dengan judul asli Kaanu Minal Laili Maa Yahja’uun ini disusun oleh Abu Abdullah Muhammad bin Su’ud Muhammad al-‘Arifi di Riyadh, selesai tahun1418. Diterjemahkan oleh Zainal Abidin bin Syamsuddin dan diterbitkan oleh Pustaka Imam Bonjol yang tahun 2020 ini sudah masuk cetakan ke empat.

Buku ini menceritakan tentang panduan shalat di ujung malam, Qiyamul Lail. Salah satu shalat sunnah yang memiliki keutamaan sangat besar setelah shalat fardhu, dan sering menjadi waktu istimewa berkhalwat dengan Rabb Semesta Alam. Ujung malam, menjadi waktu yang sering dimaksimalkan oleh Rasulullah saw dan generasi terbaik pendahulu kaum muslimin.

Buku Air Mata di Ujung Malam menjelaskan Qiyamul Lail dari mulai hukum-hukum, tata cara, adab, manfaat dan faktor yang memudahkan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw dan fatwa para ulama.

Secara tersirat buku ini juga mengajak umat muslim berpikir. Sebegitu banyaknya manfaat shalat malam, bahkan bisa menjadikanmu selamat dari api neraka, namun mengapa kini banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin tanpa ada rasa beban dan bersalah?

Plak-plak-plak! Tertampar aku setertampar-tamparnya. Bener banget sih, berapa banyak dosa diri ini hingga sulit sekali untuk bangun malam dan memohon ampun kepada Sang Pemilik Langit dan Bumi? Ya Allah…

Padahal saat kita tertimpa masalah, berkeluh kesahlah kepada Allah di sepertiga malam. Saat kita memiliki keinginan, bermunajatlah kepada Allah di waktu-waktu mustajab tersebut. Gratis kok. Namun mengapa diri ini sungguh nyaman terlelap kepada kenikmatan dunia yang…  padahal fana…

Apakah ada yang merasakan sepertiku juga?

Astagfirullah, mungkin kita harus lebih sering meminta ampun tersebab terlalu banyak dosa.

Karya tersebut cukup jelas sangat memotivasi dan menjadi reminder tentang keutamaan Qiyamul Lail. Bagaimana Rasulullah dan para generasi terbaik dahulu benar-benar mencintai ibadah tersebut: seperti kebutuhan air dalam penghilang dahaga. Berlelah-lelah untuk sebenar-benarnya menggapai surga. Rasulullah bahkan sering shalat sampai kakinya mengelupas sebagai tanda bersyukur kepada Allah.

Membaca kisah generasi terbaik sebelumnya benar-benar membuatku merasa harus berusaha lebih baik lagi.

“Dan pada Sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra: 79)

Semoga kita bisa mendapatkan pertolongan Allah untuk dimudahkan dalam sebaik-baiknya beribadah kepada-Nya. Membiasakan shalat malam dan mendapati nikmatnya dalam menjalankan ibadah sunnah muakad tersebut. Aamiin Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Sebelum Cahaya

Pembahasan selanjutnya adalah lirik lagu dari Band Letto. Dari lirik lagu Sebelum Cahaya mungkin akan terdengar seperti bucinnya seorang kekasih yang tidak akan meninggalkan kekasihnya sendiri. Padahal jika dicermati lagi, ada makna lain bahwa betapa Gusti Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Dalam keadaan apapun.

Ku teringat hati

Yang bertabur mimpi

Kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi

Engkau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati cinta

Bukankah seperti pertanyaan. Kemanakah manusia mau mencari lagi. Begitu banyak mimpi, begitu banyak ingin. Katanya mau masuk surga. Katanya mau hidup tenang, tapi mengapa masih lalai dan tidak meminta ampun pada setiap dosa?  Pertama aku baca secara kasar begitu, tetapi ternyata lirik ciptaan Mas Noe ini punya makna yang lebih dalam.

Setelah aku research (wihh), ternyata lagu Sebelum Cahaya menceritakan tentang penghiburan Allah swt kepada Nabi Muhammad SAW dalam mengemban beban menyebarkan risalah Islam. Terinspirasi dari peristiwa turunnya Surat ad-Dhuha.

Perjalanan sunyi, yang kau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati cinta

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja

Yang menemanimu sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra

Yang ‘kan membelaimu cinta

Baca selengkapnya disini : KHAS–Cak Nun dan Noe ‘Letto’ Bicara Makna Sufistik Lagu ‘Sebelum Cahaya’

Jadi “Sebelum Cahaya”, artinya sebelum itu semua terjadi, Tuhan telah menyiapkan “Angin yang berhembus mesra, embun pagi yang bersahaja”.  Sehingga, kekasih-Nya yang tercinta – Muhammad Saw – dijamin tidak akan pernah sendiri meski seandainya semua orang mengucilkannya. Karena Dia – dengan segala pancaran manifestasi-Nya –  senantiasa ada menemaninya di mana pun ia berada. (dikutip dari islamindonesia.id)

“Nurun ‘ala nur” (cahaya di atas cahaya),”

Coba dengan lirik yang lainnya

Kekuatan hati yang berpegang janji, genggamlah tanganku cinta

Ku tak akan pergi, meninggalkanmu sendiri, temani hatimu, cinta

Nostalgia lagi, dengar lagunya disini >>>

Nah, kesimpulannya bukankah menjadi sebuah pengingat juga, bahwa manusia untuk senantiasa mengingat siapa Sang Pencipta. Karena Allah tidak pernah meninggalkan dan menelantarkan 😊  Bahkan memberi cinta yang lebih besar daripada cinta ayah dan ibu kepada anaknya.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Maka disepertiga malam terakhir, tidak adakah keinginan kita untuk berkhalwat dengan-Nya saja?

(Perenungan teruntuk diriku pribadi)

Rosi Risalah

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *