Artikel

Kisah Iblis yang Ikut dalam Parlemen Musyawarah Kaum Kafir Quraisy

Saat itu, pagi-pagi sekali. Perwakilan dari masing-masing kabilah siap berkumpul, berdiskusi pada sidang istimewa dengan satu topik besar: bagaimana caranya menyingkirkan Muhammad yang terus gencar dalam Dakwah Islamiyah. Rupanya mereka semakin merasa terancam, merasakan berapa seriusnya bahaya yang akan mengancam kelangsungan sendi kekuasaan mereka. Mereka tak menyukai risalah yang dibawa oleh Rasulullah, dan berunding untuk memutus pantulan cahaya eksistensi Islam saat itu (dua bulan setengah setelah Ba’iat Kubra).

Tatkala mereka berdatangan menuju Darun Nadwah, seorang pria tua berwibawa dengan pakaian tebal menghampiri mereka.

Para hadirin bertanya, “Siapakah bapak tua itu?”

“Dia orangtua dari Najd yang telah mendengar perihal tujuan pertemuan kalian. Dia hadir bersama kalian untuk mendengar apa yang kalian katakan, barangkali saja pendapat dan nasihatnya berguna bagi kalian.”

Mereka pun berkata, “Baiklah, silahkan masuk!”

Sesungguhnya, bapak tua itu ialah iblis. Datang dengar samarannya untuk memberikan ide-ide keji dalam menjatuhkan Nabi Muhammad ﷺ.

Sidang pun dimulai, usulan pertama muncul dari Abul Aswad yang berkata, “Kita usir saja Muhammad dari tengah-tengah kita, kita asingkan dari negeri ini. Kita tidak akan peduli kemana dia pergi dan apa yang kiranya terjadi terhadap dirinya. Dengan demikian, kita telah memperbaiki urusan kita dan mengembalikannya seperti sediakala.”

Si orangtua dari Najd menimpali, “Demi Allah, tidak demikian. Ini bukanlah pendapat yang tepat. Bukankah kalian sudah mengetahui betapa indah gaya bicaranya, manis ucapannya dan betapa kemampuannya menguasai hati manusia dengan ajaran yang dibawanya? Demi Allah, andaikata kalian lakukan seperti yang diusulkan tadi, niscaya kalian tidak akan dapat merasa aman bilamana dia singgah di suatu perkampungan bangsa Arab, lantas membawa penduduknya kepada kalian dan menyerahkan mereka untuk menginjak-injak kalian di negeri kalian sendiri, untuk kemudian memperlakukan kalian sesuka hatinya. Karenanya rancanglah pendapat selain ini.”

Lalu Abu Bukhturi berkata, “Kurunglah dia di dalam kerangkeng besi, kunci pintunya lalu kalian tunggu apa yang dialaminya sebagaimana yang terjadi pada para penyair sebelumnya seperti Zuhair dan an-Nabighah serta orang-orang dulu selain mereka yang mati dengan cara ini, sehingga dia juga bisa merasakan apa yang pernah dirasakan oleh mereka itu.”

Si orang tua dari Najd mengomentari lagi, “Demi Allah, tidak juga demikian. Ini bukanlah pendapat yang bagus. Demi Allah, andaikata kalian kurung dia sebagaimana yang kalian katakan, niscaya masalahnya akan mampu keuar dari balik jeruji yang kalian kunci ini dan sampai kepada para sahabatnya. Sungguh, mereka pasti akan menyerang kalian, lantas merebutnya dari tangan kalian kemudian datang secara beramai-ramai kepada kalian hingga mengalahkan kalian dan mengambil alih kekuasaan kalian. Karena itu, ini bukanlah ide yang tepat, coba pikirkan yang lainnya.”

Setelah parlemen menolak kedua pendapat tersebut, lalu diajukan usulan keji yang kemudian disepakati oleh semua anggota. Usulan ini dilontarkan oleh Abu Jahal bin Hisyam. Dia berkata, “Aku berpendapat bahwa kita harus memilih dari setiap kabilah seorang pemuda yang gagah dan bernasab baik sebagai perantara kita, kemudian kita berikan kepada masing-masing mereka pedang yang tajam, lalu mereka arahkan kepadanya, menebasnya secara serentak seakan tebasan satu orang untuk kemudian membunuhnya. Dengan begitu, kita bisa terbebas dari ancamannya. Sebab, bila mereka melakukan hal itu, berarti darahnya telah ditumpahkan oleh semua kabilah sehingga Bani Abdi Manaf tidak akan mampu memerangi semua kabilah. Hasilnya, mereka terpaksa harus rela menerima ganti rugi dari kita, dan kita pun membayarkan ganti rugi atas kematiannya kepada mereka.”

Kali ini si tua Najd berkata, “Pendapat yang tepat adalah pendapat orang ini. Inilah pendapat yang saya kira tidak ada lagi yang lebih tepat darinya.”

***

Sungguh keji dan kejam muslihat Iblis laknatullah. Maka hikmah yang dapat diambil dari penggalan kisah diatas menurutku adalah, Iblis selalu mencari dan menghasut manusia untuk berbuat tindakan yang paling buruk. Jelaslah siapa musuh yang harusnya kita waspadai. Mula-mula menjauhkan kita dari ilmu dan kebenaran.

Bagi pengemban dakwah juga tidaklah mudah sepertinya, melihat kasus di atas selalu saja banyak pihak yang tidak suka kepada Dakwah Islamiyah dan berusaha untuk memutus cahayanya. Namun, Allah Maha Melihat, pasti selalu ada jalan hingga akhirnya sampai kini pun Dakwah Islam tetap terjaga.

Gak akan heran kalau nanti banyak yang memecah belah, saling serang sesama muslim, dan malah mengecap sesamanya dengan sebutan radikal dan lain-lainnya. Padahal, selama itu masih satu sumber dari ajaran Al-Qur’an dan Rasulullah, sama rukun Islam dan rukun imannya, kenapalah harus saling menghujat?

Di zaman ini, dengan banyak hal yang sudah tidak Islami, kitalah yang menentukan pilihannya sendiri. Menjadi bagian dari Jalan Dakwah, menjadi bagian dari pemersatu umat, ataukah menjadi bagian dari mereka yang berusaha memutuskan cahaya Islam dan memecah belah? Wallahu’alam, Ya Allah.

Kami hanya meminta bimbingan kepada-Mu.

Dikutip dari Referensi

Al-Mubarakfuri, Syaikh Safiyyurahman. (2001). Al-Rahiq al-Makhtum. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad ﷺ. Jakarta: Penerbit Darul Haq

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *