She - Henry Rider Haggard www.rosirisalah.com
Opini, Resensi, review

Randomly, Baca Buku Sastra Klasik “SHE” karya Henry Rider Haggard

Ini, random banget sih sebenarnya. Aku orang yang jarang banget baca novel  klasik terjemahan, atau buku-buku tentang adventure gitu. Tapi kebetulan, ada buku giveaway yang belum terbaca, yang covernya menggugah jiwa! Hahaha… langsunglah aku lahap saat itu juga.

Btw sebelumnya terimakasih banyak kepada penerbit @shiramedia yang sempat memberikan saya give away 1 juta buku beberapa tahun lalu (seriusan ini udah lama) Itu tetap jadi lucky moment yang tidak terlupakan wkwkwk *big thanks super arigatou

Oke lanjut, jadi buku yang akan saya ulas adalah karya klasik fenomenal dari Henry Rider Haggard (1856—1925). Merupakan salah satu penulis Inggris yang lahir di Bandenham, Norfolk. Buku “Dia” ini salah satu sastra  klasik imajinatif terlaris sepanjang masa, bisa bayangin buku ini terjual 83 juta kopi dan diterjemahkan lebih dari 44 bahasa di dunia. Aku browsing-browsing juga, ternyata buku ini sudah diadaptasi beberapa kali ke dalam film.

Jadi ceritanya, diawali dengan professor ansos di Cambride bernama Horace Holly, yang pintar dan berwawasan luas, namun logic banget dan karena merasa fisiknya tidak bagus, si Horace ini benar-benar menjauh daripada manusia.

Lalu suatu malam, sahabat satu-satunya, Vincey menceritakan sebuah wasiat tentang warisan keluarganya yang selama turun-temurun mencoba membalaskan dendam leluhurnya pada seorang sosok “Dia” di suatu tempat di Afrika. Dan dengan sangat tiba-tiba juga dia mengatakan kalau dirinya besok akan mati, dan meminta Holly untuk merawat anaknya demi meneruskan warisan keluarga mereka di umur ke-25. Dan besoknya, Mr. Vincey ini benar-benar mati.

Nama anaknya itu, Leo Vincey yang digambarkan ganteng banget sih, seperti keturunan Appollo dewa yunani katanya. Dan sebenarnya, karakternya digambarkan se perfect itu, di buku ini. Walaupun dari segi pemikiran rasanya lebih menarik Horace Holly, (karena memang sudut pandang dia sebagai orang pertama di buku ini). Saya malah membayangkan perawakan Horace Holly ini seperti sosok Martin Freeman yang meranin Dr. Watson di Sherlock Holmes seri BBC One wkwkwk (gak bisa bayangin jeleknya). Ya bisa anggap, Leo nya seganteng Benedict tapi itu hanya imajinasiku saja hahaha.

Baca juga: Mengenal Jejak Thariq bin Ziyad lewat Novel Prahara Andalusia

Pada saat Leo berumur 25 tahun, mulailah petualangan mereka untuk benar-benar mencari sosok ‘Dia’ itu.  Walaupun awalnya menolak karena dianggap tidak logic, pada akhirnya Holly ikut dan mereka terdampar dari kapal, tinggal di rawa-rawa, digigiti nyamuk rawa yang menyebalkan sampai di tawan oleh suku Amahagger yang akan membakar tamu tamu di sebuah panci panas!

Ya, sebenarnya ini hanya permulaan. Pada akhirnya, konflik mereka adalah saat benar-benar bertemu dengan sosok ‘dia yang harus di patuhi’. Julukan untuk dia sang ratu yang harus dipatuhi rakyatnya, perwujudan dari sosok perempuan yang sangat cantik, tapi licik dan kejam.

Dan skip, saya gak akan cerita kelanjutannya. Karena memang, saya masih merenung kenapa cerita seperti ini sangat diminati waktu itu? Menurutku malah, makin ketengah malah agak mistis dan horror. Akhirnya juga, walaupun memang cerita petualangannya seru. Dari sisi psikologis, bagiku sosok dia yang hidup 2000 tahun demi menunggu cinta sejati itu, sangat absurd, obsesif, loyal dan seram. Namun memang tidak dipungkiri sih, ini sastra pionir tema Lost World yang imajinatif banget penggambaran suasana setting/latarnya.

Baiklah, jadi secara subjektif saya akan mengatakan scene favorit adalah, saat pada perjalanan pulang, angin berhembus dan mantel yang dipakai Ayesha (si Dia) yang hilang tiba-tiba muncul kembali dan menutupi Leo Vincey dan Leo menangis di bawah mantel itu. Ini parah sih, aku gak tahu kenapa jadi ikut mellow pas baca scene ini. Padahal awalnya seram hahaha….

Dan kutipan paling terngiang dari buku ini, (dikutip dari pemikiran Holly Horace),

“Tak diragukan lagi ia adalah orang yang licik, dan tak diragukan lagi ia telah membunuh Ustane saat ia menghalangi langkahnya, tapi ia juga sangat setia, dan sesuai hukum alam laki-laki cenderung menganggap ringan kejahatan perempuan, terutama kalau perempuan itu cantik dan kejahatan itu dilakukan atas nama cinta terhadap si laki-laki.”

(Hlm, 319-320)

Ngeri gak tuh? Hahaha….

Cuman bisa geleng-geleng aja saya, pas baca dan udah baca bukunya hahaha!

Rosi Risalah

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *