Resensi, review

Resensi Catatan Harian Adam dan Hawa – Mark Twain

Judul Buku          : Catatan Harian Adam dan Hawa dan Kisah-Kisah Lain

Penulis                 : Mark Twain

Penerjemah       : M. Dhanil Herdiman

Penerbit              : Immortal Publisher

Tahun                   : Cetakan I, 2017

Tebal                     : 212 hlm; 13 x 19 cm

­Cinta, kedamaian, kesenangan, kebahagiaan tak terukur— itulah kehidupan di Taman. Sungguh menyenangkan bisa hidup.

Sebenarnya ini adalah karya Mark Twain pertama yang aku baca. Twain adalah sastrawan yang lahir di Hannibal, Missouri tepi Sungai Mississippi, Amerika Serikat. Beberapa karyanya yang paling terkenal ialah The Adventures of Tom Sawyer, The Adventures of Huckleberry Finn, The Prince and the Pauper, A Connecticut Yankee in King Arthur’s Court, dan Life on the Mississippi. Beberapa bahkan sudah masuk ke layar kaca.

Sementara buku ini adalah giveaway yang aku dapat dari Tokobuku Shiramedia. (Big thanks untuk Shiramedia) dan… wadaw Luar biasa! Pemikiran Twain memang liar. Menulis fiksi bak format diary dari Adam dan Hawa (tentu atas versi Twain) tentang bagaimana mulanya manusia pertama itu hidup dan menjalani kehidupan di Surga (dan di Bumi). Lucu dan menggelitik. Sudut pandang tulisan dibuat sedemikian menarik dari sisi Adam dan juga Hawa. Tentunya dengan ciri khas idealisme yang berbeda dari perempuan dan laki-laki. Ada ungkapan menarik yang terus terngiang setelah usai membaca buku ini, “Adam itu adalah peneliti pertama di muka bumi.”

Benar. Kalau iya begitu. Bayangkan jika memang kita sebagai manusia pertama yang pasti akan kebingungan dengan segala hal yang ada. Benda-benda. Namun manusia diberikan akal untuk bisa membuatkan hal tersebut dengan definisi dan pengertian. Makhluk yang mengungguli makhluk lain dengan penemuan nama-nama. Pengetahuan. Yang menarik pula adalah adanya petikan dari catatan harian iblis yang menggoda Adam dan Hawa.

Scene favoritku dalam kisah ini adalah salah satu dari kutipan catatan harian Hawa, saat menemukan penemuan lain tentang singa bukanlah pemakan tumbuh-tumbuhan.

Aku menghampiri Adam dan menyampaikan kepadanya penemuanku itu, tetapi dia pasti menanggapi dengan ejekan. Dia berujar, “’Di mana dia akan menemukan daging?”

Harus kuakui bahwa aku tidak tahu.

“Bagus sekali kalau begitu, kaulihat sendiri kalau gagasan itu meragukan. Daging tidak dimaksudkan untuk dimakan karena kalau tidak, pasti sudah tersedia. Tidak ada daging yang tersedia. Daging ada kalau ada kebutuhan. Itu berarti tidak ada karnivora yang dipaksakan masuk ke dalam rencana-rencana tentang makhluk. Bukankah ini kesimpulan yang logis?”

“Memang.”

“Apa kesimpulan itu punya kelemahan?”

“Tidak.”

“Bagus sekali, kalau begitu kau harus bilang apa?”

“Bahwa ada sesuatu yang lebih baik daripada logika.”

“Benarkah? Apa itu?”

“Fakta.”

Kupanggil singa itu dan kupaksa membuka mulut. Dan menunjukan gigi gigi hewan buas.

… dia selalu seperti itu—tidak pernah picik, tidak pernah dengki, selalu adil, selalu murah hati, beri bukti sesuatu kepadanya dan dia akan langsung menyerah dengan rasa hormat. Aku bertanya-tanya apakah aku pantas untuk lelaki ajaib, makhluk indah, jiwa yang dermawan ini? (Hlm 58-59)

IMG_4475

 

Aku membacanya dengan agak geli sendiri membayangkan bagaimana Hawa menemukan penemuan baru dan berhasil mematahkan kepedean Adam. Menarik, lucu dan cerdas.

Buku ini juga menghadirkan cerita-cerita lain gubahan Mark Twain seperti kisah Warisan 30.000 dolar yang menceritakan Saladin Foster dan istrinya Electra yang dikabarkan akan mendapatkan warisan secara cuma-cuma dari kerabat jauhnya sebesar 30.000 dolar. Kisah ini menarik karena si pasangan tersebut terus berpikir untuk meningkatkan jumlah uang mereka di dalam pikiran. Ya, sebuah hitung-hitungan di dunia khayal! Bahkan perhitungan untuk rugi-bangkrut dan sebagainya. Menarik dengan akhirnya lucu serta ironi.  Salah satu kutipan favoritku dalam kisah itu: “Mereka duduk, merasa pusing dan bahagia pada malam itu, mencoba menyadari bahwa mereka benar-benar mendapatkan seratus ribu dollar bersih, tunai dan imajiner. Begitulah.” (Hlm .127)

Ada juga kisah tentang Keluarga Lester yang terdiri dari empat orang perempuan dengan judul Apakah itu Surga? Ataukah Neraka? Lalu ada kisah Edward Mills dan George Benton, dan tak kalah menarik cerita terakhir dengan judul Kisah California.

                Mungkin harus diingat bahwa kisah-kisah ini adalah fiksi dan boleh jadi tidak sesuai dengan keadaan aslinya/kepercayaan yang selama ini ada. Aku sendiri hanya mengambil hal-hal baiknya tanpa ada indikasi untuk menghinakan atau menjelekkan. Murni kuanggap ini hanya simulasi dan absolutely rekaan. Kalau aku sendiri justru memaknai kisah ini sebagai motivasi, bahwa manusia itu memang makhluk yang bisa bekerja dalam meneliti. Belajar. Mencari tahu. Terus mencari tahu.. Melakukan penelitian seperti manusia-manusia pertama, Adam dan Hawa. (Tentunya apabila dengan kepercayaanku, semuanya dengan seizin Tuhan.)

(Rosi Risalah)

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *