Resensi Otak tanpa Kotak - rosirisalah.com
Resensi, review

Review Buku Otak tanpa Kotak terbitan Al Fatih Press

Kita tanpa sadar hanya akan terjajah, apabila mengambil setiap pemikiran tanpa filter atau pun bersikap pasrah tanpa mengambil apa-apa.

Judul                     : Otak tanpa Kotak

Penulis                 : Ratih Paradini

Visualis                 : Kizain

Penerbit              : Al Fatih Press

Tahun                   : 2019

Testimoni

“Jalan utama menemukan Allah adalah akal, tapi tidak hanya akal yang berpikir, tapi akal yang berpikir diluar kotak, ketika kotak yang disediakan justru menghalangi kita dari terhubung dengan Allah. Tulisan yang mencoba menembus batas, menyingkap tabir, menemukan kebenaran hakiki.” – Felix Siauw

“Seorang ilmuwan, kalau dia cuma berkutat di dunia ilmiah, sampai derajat Profesor kelas dunia pun, tidak akan meninggalkan level 2 dari 7 level berpikir yang ada. Mereka yang tidak beriman akan menggunakan sains dan teknologi untuk menjajah manusia yang lain. Sementara itu, ilmuwan muslim yang hanya mengekor ilmuwan pertama, hanya akan terjajah. Hanya ilmuwan yang mengenal tujuan hidupnya dan sekaligus menjadikan tauhid sebagai landasan berpikirnya, yang akan keluar dari penjara keterjajahan, sekaligus akan membebaskan manusia dari penjajahan. Dan buku ini cukup berharga untuk mengantarkan Anda menuju ilmuwan level 7.” – Prof. Dr. Fahmi Amhar, Alumnus Vienna University of Technology dan Penulis Buku “Berpikir Level 7”

“Yang SD tanamkan sejak dini: belajar yang baik, agar lulus ujian, supaya bisa masuk SMP favorit. Yang SMP ditanamkan sejak dini: belajar yang baik, agar lulus ujian, supaya bisa masuk SMA Favorit. Yang SMA ditanamkan sejak dini: belajar yang baik, agar lulus ujian, supaya bisa masuk universitas favorit. Yang kuliah ditanamkan kuliah yang benar, agar dapat pekerjaan favorit.

Bagaimana dengan guru, sibuk ngejar sertifikasi. Yang dosen sibuk ngurusin skopus. Profesi yang lain, pengacara, dokter, akuntan dan lainnya terpenjara di balik meja kerjanya. Maka benar, intelektual dari yang kecil hingga yang beruban telah terjajah.

Lalu bagaimana agar mereka merdeka dari penjajahan ini? Tidak ada kata lain kawan, solusinya: baca buku ini.” – dr. Fauzan Muttaqien, Sp. JP FIHA Sekjen HELPS dan Penulis Buku

Resensi Otak tanpa Kotak - rosirisalah.com

 

Ulasan Buku Otak Tanpa Kotak

Ya! Bagaimana testimoni dari tiga tokoh di atas? Semakin penasaran? Saya juga sama! Dan setelah membaca buku ini, terbangunlah beberapa insight atau sekadar memperkuat yang sudah ada. Memang, membaca buku seperti mengobrol dengan orang lain untuk mendialogkan sesuatu. Pemikiran penulisnya, menghapuskan dahaga yang dirasa. Konsep tentang intelektual terjajah. Menarik, karena memang benar adanya.

Waktu kuliah, sempat dengar juga sekilas tentang imperialisme pendidikan. Bagaimana pusat pendidikan kita sangat mengiblat pada western. Dan ya, memang sesungguhnya penjajahan ada dimana-mana, bahkan sekalipun dalam sektor pendidikan. Misalnya saja, bagaimana sebuah jurnal internasional akan diterbitkan, apabila sudah sesuai dengan syarat-syarat dari Scopus, yang intinya sebuah pengetahuan yang dibangun selalu berlandaskan pada nilai-nilai yang dibuat oleh penguasa ‘pengetahuan’ itu sendiri.

Kita tanpa sadar hanya akan terjajah, apabila mengambil setiap pemikiran tanpa filter atau pun bersikap pasrah tanpa mengambil apa-apa.

Buku setebal 209 halaman ini menarik karena mengupas realitas tentang intelektual dari kacamata muslim. Beberapa judul sub dalam Bab 1 menjelaskan permasalahan tentang Otak dalam Kotak, Materialistis Pendestruksi Mimpi, Sekularisasi Pendidika, Kapitalisasi, Komersialisasi dan Industrialisasi Perguruan Tinggi, Arus Ekonomi Digital dan lainnya. Sementara Bab 2 fokus kepada solusinya seperti Otak Tanpa Kotak, Membentuk Orientasi, Muhasabah Berfikir Intelektual, Standar Intelektual Bersyariat, Vaksinasi Terhadap Virus Barat, Intelektual Pejuang dan lainnya.

Resensi Otak tanpa Kotak2 - rosirisalah.com

Baca juga: Resensi Tafsir Al-Qur’an Kontemporer For Teenage (An-Naas – Al’Aadiyaat)

Ohya, dari seluruh bab, salah satu yang paling saya sukai adalah penjelasan tentang Madaniyah dan Hadharah. Di bagian bab vaksinasi terhadap virus barat, penulisnya menjabarkan tentang penjelasan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diadopsi dari Barat.

Dilihat dari perbedaan madaniyah dan hadharah. Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Bersifat khas dan umum. Sementara Hadharah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan dan bersifat khas.  Bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadharah, seperti patung, termasuk madaniyah yang khas. Sedangkan bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan oleh kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri tergolong madaniyah yang bersifat umum, atau milik seluruh umat. (Dikutip dari Otak tanpa Kotak, Halaman 155)

Jadi intinya, banyak aspek yang dihasilkan sains dan teknologi yang dapat digunakan oleh orang-orang muslim. Seperti laptop, handphone, kamera maupun benda-benda lain, karena sifatnya yang bebas nilai serta tidak terikat dengan ideologi apapun. Sedangkan Hadharah adalah sesuatu yang tidak boleh diambil karena berbentuk ideologi atau pemahaman cara memandang hidup, seperti ideologi sekularisme, materialisme, feminisme dan sebagainya.

Sekularisme muncul dan menjamur. Karena justru peradaban barat tenggelam dalam keterpurukan sebab menerapkan agama (sistem teokrasi) pada masanya. Padahal pengalaman sejarah bangsa Barat berbeda dengan umat Islam, jika Barat bangkit dengan meninggalkan Agama justru umat Islam bangkit ketika menerapkan Agama. (Halaman 154)

Kita akan paham, ilmuwan-ilmuwan muslim yang tergerak meneliti adalah sebab bentuk ibadah, seperti Al Khawarizmi penemu rumus Aljabar yang pada awalnya berupaya untuk menghitung zakat dan pembagian harta waris yang efisien berdasarkan Al Quran. (Halaman 199) Ilmuwan lain juga dibahas seperti Ar-Razi, Ibnu Haitham, Jabir Ibnu Hayyan, Az-Zahrawi, Ibnu sina atau Avicena, Al Idrisi dan juga kisah hikmah traveller sekelas Ibnu Batutah.

Serta banyak lagi insight-insight lainnya. Jelas sekali buku ini benar-benar daging, worth it juga mencerahkan. Visualnya juga mantep betul, saya suka dan akan selalu beri bintang 5 untuk visual terbitan Al Fatih Press. Layoutnya tidak bikin bosan, dan typografi kutipan-kutipannya juga keren banget.  

Jelasnya, anak muda muslim harus tahu bahwa menjadi sebenar-benarnya intelektual adalah mereka yang tetap memegang teguh tauhid. Sebab ajaran Islam memang meninggikan mereka yang memiliki ilmu beberapa derajat. Allah menyuruh kita untuk selalu senantiasa mencari ilmu.

Namun, bukan berarti menjadi anti barat sehingga kita tertinggal, namun jadilah adaptif dan inovatif dengan dapat memfilter apa yang memang dapat kita pergunakan untuk sebaik-baiknya perkembangan dan solusi bagi umat. Bangkitlah, dengan tidak meninggalkan intisari Islam. Karena harus selalu diingat, umat Islam pernah berjaya dalam peradaban penuh ilmu dan hikmah.

Akhir kata, semoga umat Islam segera bangkit dan Allah selalu membimbing serta memberikan kita hikmah dan nikmat ilmu yang bermanfaat. Aamin.

(Rosi Risalah)

Please follow and like us:

2 Komentar

  1. Masya Allah nak… luar biasa

    1. oco

      Hai emak konten 😀 terimakasih sudah berkunjung pada blog ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *